GET MERIT
Saya geli sendiri mencantumkan judul di atas. Geli ajah. Seolah-olah nih, saya membayangkan persepsi yang terbentuk dari pembaca adalah terkait dengan saya, pernikahan, dan bla-blanya. Atau reaksi dari pernikahan yang dilakukan oleh sobat-sobat saya yang terjadi menjelang sebelum bulan suro, haha..karena pamali kalo bulan suro menyelenggarakan pernikahan gitu. Hemm.. ato apalagi yah. Apalagi coba?
Judul di atas juga mengingatkan saya akan sinema Indonesia yang dibintangi oleh Nirina Zubir. Walaupun sampai saat ini saya pribadi belum pernah melihat felm itu sama sekali, pun ketika ditayangkan di layar televisi. Padahal katanya lucu, hehe.. sebuah kata persuasif yang seharusnya menarik minat saya untuk menontonnya. Tapi gak tau nih, belum pernah liat tuh. Katrok gak sih? Haha…
Justru saya ingin menulis hal ini dan segala yang melingkupinya karena terinspirasi oleh “pertengkaran” dengan sobat yang amat sangat saya cintai. Sobat yang masih satu kota dengan saya, yang doi tuh subhanallah zuhudnya (hehe.. bandingkan dengan saya, ouch), walau kita tidak satu tempat tapi hati kita bisa diibaratkan layaknya soulmate gituh. Huhuy.. tapi saya masih normal koq, tidak mengalami disorientasi seksual. Naudzubillah.
Hiperbolis sih kalo dikatakan pertengkaran, karena kami hanya berselisih paham saja. Adu tabrak idealisme yang kami terjemahkan dalam pemahaman yang bisa kami gapai. Woooww. Dan kalo ngemeng masalah idealisme, siapa sih yang tidak ingin konsepnya yang idealis terwujud dalam kenyataan? Seperangkat mafhum adalah landasan untuk melakukan amalannya. Alaysa kadzalik?!
Maka ketika berbicara tentang pernikahan, hahah.. koq bener-bener geli yah. Ehem..serius..serius.. tapi nyante aja sih. Toh ini fitroh manusia kan? Jadi, jika bicara pernikahan maka tak lepas dari yang nama kerennya mitsaq[an] ghalidz atau dalam terjemahannya perjanjian yang berat. Huhuw, perjanjian berat bo. Yupz, penggunaan kata “mitsaq” (perjanjian) memberi makna yang sangat suci yaitu dengan adanya kesetiaan, kepercayaan, perlindungan, rasa cinta, hubungan dan pergaulan yang baik. Dengan terikat perjanjian berat ini menuntut orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk memenuhi hak dan kewajibannya.
Pembentukan keluarga akan tergantung pada kerangka pandang pemahaman suami dan istri. Ini terlihat dari bagaimana proses menuju pernikahan tersebut. (huweeh, dah mulai serius nih, huhu..). Proses yang dalam Islam dikenal sebagai khitbah. Diawali dengan ta’aruf dan yang gak kalah interestingnya, pra itu semua adalah penetapan kriteria calon pasangan, konsep dalam menjalani khitbah, pernikahan dan kehidupan pasca aqod nikah. Sounds so idealistic huh? Ya, iyalah… bukankah setiap manusia menginginkan yang terbaik? Apalagi ketika menginginkan jodoh itu berlanjut hingga kehidupan setelah dunia kelak. For once more time, alaysa kadzalik?!
Inilah yang sedikit menimbulkan percikan api antara saya dan sahabat. Heheh.. saya sedang tidak membicarakan aib kami loh ya. Saya hanya mencoba menggali lagi pemahaman dan pandangan tentang pernikahan. Dimulai dari keidealistikannya dalam memandang sosok laki-laki yang akan menjadi qowamnya kelak yang membuat saya salut tapi juga gak begitu sepakat dengannya. Uh, come on! saya sedang tidak menjadi sok idealis, pemaklum kelas berat atau entah apapun itu yang menjadi block/penghalang bagi saya untuk menjabarkan sedikit pemahamanyang masih perlu untuk dibenahi terkait dengan pernikahan.Audzubillahi min hamazati asy-syaithon. And here we go with my opinion.
Kriteria calon pasangan.
Ada banyak cerita yang masuk ke telinga saya. Mulai dari yang menginginkan calonnya hufadz qur’an dan tak peduli dengan kriteria lainnya. Walau calonnya itu tidak seberapa cantik, tidak lembut, tidak menarik, but who’s care when he got the keys? Ada yang cukup dengan wajah cantik karena yang lelaki menyadari wajahnya pas-pasan dan perlu untuk memperbaiki keturunan. Sang lelaki pun cukup pede dengan keimanan yang dia miliki. Hehe.. nyata bo!
Ada juga yang melihat dari bagaimana pola kepemimpinan sang pria. Bagaimana ketika dia memutuskan sesuatu dengan pemahamannya dalam mengaitkan dengan hukum syara’. Detail..!!! hahaha… It’s kind of variety to get the right one. Ato temen saya yang jauh di mato sono, pengennya simple sajah, kayak Nicholas Saputra. Wakaka..got it?
Yah, it’s up to us to make any list of criteria for our couple. Monggo kalo tertarik karena kecantikan, ketampanan, kepintaran, atau hal-hal interesting lainnya. Fitroh kan? Rasulullah saw. saja bersabda bahwa wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunan (nasab)nya, kecantikannya, atau agamanya. Beliau saw. pun menganjurkan untuk mengutamakan agama.
Idzan, ad-diinu huwa waasi’un. Agama itu luas. Mo yang bagian mananya? Kullu? Semua? Atau cukup seperti contoh di atas, yang penting hufadz qur’an yang lainnya gak masyalah.. biar dia jelek, gak bisa masak, srugal-srugul, gendut (wehehe, saya sadis banged yaks kalo nyontohin). Ato gak papa gak apal qur’an yang penting dewasa, bisa memecahkan persoalan sesuai dengan mafhum, mau dibimbing, cantik, sabar, gak ngrepotin, haduhh… ini contoh saya tepat tidak sih? :p
Tapi yang saya gak sepakat, kadang banyak yang sibuk berkutat pada kriteria sempurna –ato justru malah minder dan merasa gak layak dengan calon yang ada dihadapannya?. Jadi inget ama kata seorang penulis buku, nikah aja sama kitab pembinaan kalo menginginkan kesempurnaan. Manusia itu tempatnya salah dan lupa, malaikat donk kalo sampe gak punya salah. Selama kriteria itu realistis dan terjangkau, dikembalikan lagi pada pemahaman manusia sampai sejauh mana dia mampu merealisasikannya.
Disinilah yang menjadi misunderstood saya dan sobat saya itu. Parameter dalam mengkatalisir list-list kriteria, hingga permakluman-permakluman akan ketidaksempurnaan seorang manusia. Yah, saya berpendapat hal ini dikembalikan lagi pada dirinya sendiri sejauh mana keidealitasan itu dia pertahankan dan ketika terbentur pada realitas bahwa NO BODY IS PERFECT. Kadang yang terjadi seseorang sibuk mendelete list hanya karena satu kriteria tidak terpenuhi. Weh, kejam banged yaks? Padahal kalo sudah terselimuti oleh yang namanya VMJ (virus merah jambu) bisa jadi laen ceritanya. Hadoooh…
Ada cerita menarik di jaman nabi saw dulu. Seorang laki-laki yang kaya dan rupawan mencintai seorang wanita dan hendak melamarnya . Yang menjadi halangan adalah laki-laki tersebut kafir. Wanita itu pun mengajukan syarat ia mau menerima ajakan menikah sang laki-laki asalkan dia masuk Islam, dan mencukupkan diri dengan mahar keislaman lelaki tersebut. Dan subhanallah, dari pernikahan keduanya membawa barokah yang luar biasa. Mereka adalah Ummu Salamah dan Abu Salamah. Tapi maaf, saya bener2 lupa ceritanya gimana dan pernah membaca di mana. Tolong dikoreksi kalo salah.
Saya suka dengan cerita ini karena menjadi pelajaran tersendiri bagi saya. Tak usah muluk-muluk dan njilemitisasi dengan berbagai macam kriteria pasangan. Mubah sih mematok kriteria. Tapi menurut saya hanya akan menjerumuskan diri pada kesulitan jika kriteria itu saklek dan harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Saya pernah membaca sebuah hadits dari rasulullah (tapi lagi2 lupa bagaimana matan-nya, bener2 dhoif banged ya saya?) bahwa kita dilarang untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa kita gapai. Haduuuhh, lupa! Intinya tetap realistis. Padahal masih banyak hal lainnya yang pasti akan menjadi keindahan tersendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan kita sebagai manusia. Maka pegang basic, hal lainnya akan bisa ditelusuri dan dipahami (saling memahami) ketika hubungan sudah memasuki tahap berikutnya.
Nah, pemahaman inilah yang akan menghantarkan pada peta pemikiran untuk menuju ke perjanjian berat. Yang namanya peta pemikiran itu dapat tergambar dengan baik ketika calon pasangan mempunyai visi dan misi yang sama/searah tentang pernikahan. Visi dan misi tidak mesti bahwa kedua pasangan mempunyai latar belakang yang sama. Atau kalau mau lebih dzohir lagi, tidak mesti harus satu harokah (eh..eh… saya jadi fokusnya sama mereka2 yang dah mafhum Islam ato bahasa kerennya aktivis harokah). Hehe… Tidak menjamin ketika satu harokah maka akan sama dalam memandang pernikahan, tergantung mafahim (pemahaman), maqayis (standar), dan qonaat(keyakinan) yang mereka pegang dan sejauh mana bisa diimplementasikan. Pertimbangan pola pikir adalah mempertimbangkan sejauh mana pengetahuan yang dijadikan standar. Tentunya (thob’an) hal ini lebih mudah bagi orang-orang yang satu harokah. Gak bingung kan?
Penting juga untuk mengetahui orientasi hidup pasangan. Hal ini terkait dengan apa yang dijadikan sebagai poros aktivitas. Yang namanya poros, maka akitivitas lain akan berjalan mengikuti poros tersebut. Jika aktivitas itu tidak sejalan (berbenturan) dengan poros hakikatnya tidak bisa berputar bersama poros. Maka aktivitas itu wajib ditinggalkan. Seorang muslim diperintahkan untuk berputar sebagaimana perputaran poros Islam sesuai dengan sabda nabi saw. yaitu Ingatlah sesungguhnya poros Islam selalu berputar maka berputarlah sebagaimana ia berputar [HR. Thabrani].
Menjadikan Islam sebagai poros maknanya adalah agar kita beraktivitas sesuai dengan ketentuan-ketentuan Islam. Hanya saja saat ini Islam tidak lagi menjadi sebuah qoidah (kaidah) dan qiyadah (kepempinan) berfikir umat sehingga harus diperjuangkan dengan dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam.Maka, keterikatan akan Islam dan dakwah memperjuangkan implementasi Islam harus dijadikan poros aktivitas muslim (apalagi aktivis harokah :D). Partner (pasangan hidup) yang memiliki orientasi sama dalam memandang poros aktivitas akan memberi gambaran yang jelas akan di bawa ke arah mana perjalanan biduk rumah tangga.
Mmm… mari lanjut ke penjelasan berikutnya, mumpung saya bener-bener bersemangat untuk menggali lagi mafhum Islam terkait dengan pernikahan.
KHITBAH
Dalam sebuah buku berjudul Risalah Khitbah karangan Yahya Abdurahman disebutkan bahwa masalah meminang merupakan bagian dari sistem hidup. Masalah ini harus ditempatkan sebagai bagian dari aturan-aturan sistem interaksi yang merupakan bagian dari sistem hidup Islam secara keseluruhan. Dari pandangan ini maka ada beberapa hal yang harus mendasari pinangan yaitu:
- Melandasinya dengan aqidah
- Manifestasi kecintaan kepada Rasulullah saw.
- Mewujudkan tujuan penciptaan laki-laki dan perempuan
- Mewujudkan Keluarga Sakinah Mawadah wa Rahmah
- Mewujudkan Generasi Islami.
Untuk pendetailannya silahkan baca sendiri di buku itu, wakaka.. karena toh ini bukan tulisan ilmiah yang berisi teori paradigmatis untuk memilih pasangan dan meminang. Hehe.. Lagipula saya juga males kalo hanya sekedar copas tanpa saya pribadi memahaminya lebih jauh. Jadi…. :p
Yang menggelitik saya (lagi, gelitikan baru), dimanakah letak cinta? Bagaimana jika kita mencintai seseorang sebelum waktunya? Maksudnya di sini, cinta kepada lawan jenis merupakan fitroh dari naluri yang ada pada diri manusia. Sehingga keberadaannya merupakan fitroh juga ketika suatu waktu datang bertubi-tubi tanpa ampun melalui virus merah jambu menyala yang menyebabkan sistem pertahanan manusia jadi melemah dan terkena penyakit akut: JATUH CINTA!
Ya ya ya ya…. lagi-lagi secara paradigmatis orang-orang yang bermafhum akan mengatakan secara sistematis untuk mengembalikan lagi kecintaan yang shohih hanya karena Allah. Itu betul, saya sangat sepakat sekali. Dan alangkah lebih baiknya ketika konsep paradigmatis tadi tertuang dengan cara bagaimana mengatasi atau mengobati penyakit akut bernama JATUH CINTA. (haha.. interesting words, isn’t it?)
Kalo gini jadi inget sama lagunya Titik Puspa yang di aransemen ulang dan dinyanyikan dengan lucu bin konyol oleh Project Pop. Jatuh cinta, berjuta rasanya…Saya seneng lagu ini dalam beberapa kesempatan, karena memang fitrohnya seperti itu. Terutama yang lirik ini, dia jauh, woi ngapain di situ, siniii
dia dekat, aku senang hahahahaha
dia aktif, aku jadi lebih hiperaktif, hihihi
dia diem, zzzzzz yah tidur
oh repotnya
Sekedar mengamati fakta dan mengkait-kaitkannya. Heheh… mungkin bagi sebagian orang, lagu ini bener2 gombal tenan, gak penting, picisan, etc. Tapi emang bener seperti itu kan rasanya? Bener gak sih? Gw kan belum pernah jatuh cinta, wakakak… (ngibuljayuz dot com).
Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, ketika seseorang jatuh cinta, akan tampak ciri-cirinya sebagai berikut:
- Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai).
- Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya.
- Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, seia sekata dengannya baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang.
- Mengembaranya hati karena mencari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya.
- Menyibukkan diri untuk mengenang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.
Beuh.. romantis bener yaks? Ampe merinding nih si bang roma. :p
Tapi tidak usah berpanjang ria dengan fakta dan definisi cinta. Jika cinta tidak ditempatkan pada tempatnya hanya akan membuat sengsara. Pukul saja kesadaran ketika virus itu mulai menyerang. Kondisi keimanan benar-benar mempunyai pengaruh signifikan terhadap realitas cinta-mencinta. Idrok sillah billah atau kesadaran hubungan dengan Sang Pencipta dapat menjadi parameter untuk mengukur sejauh mana cinta itu bisa dikendalikan ke arah yang benar. Huhu… sepertinya saya sedang berfilosofis nih.
Rasulullah pun bersabda tentang cinta:
“Tiga perkara jika terdapat di dalam diri seseorang maka dengan perkara itulah dia akan memperoleh kemanisan iman: Seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia juga tidak suka dicampakkan ke dalam neraka.”
Yo! semua itu akan terasa manis ketika dikembalikan lagi pada jalan yang tepat. Sambil tetep menjaga hubungan dengan sang Pencipta supaya kita tidak semakin terperosok lebih dalem lagi ke lembah percintaan yang belum halal. Huehehe… Ahh, saya yakin pembaca juga banyak yang lebih tau dari saya bagaimana menjaga diri dengan baik dan benar (jika si pembaca orang yang baik dan benar tentunya).huhuhu…sok yakin saja ah saya ;p. Peningkatan ibadah mahdoh melalui ritual sunnah maupun puasa seperti yang dianjurkan oleh rasulullah, juga dengan mengalihkannya ke kegiatan fisik mubah yang positif dan mencerahkan fa insya Allah akan menjaga kesehatan otak dan raga kita dari penyakit akut disebabkan VMJ.
“Jadi, bagaimana dengan pembahasan khitbah? Koq sepertinya kamu muter-muter aja sih?” sahut sebuah suara di pojok sana.
Aih, muter-muter kah? Kan sudah saya beritahu di awal kalo ini bahasa saya, so terserah saya to kalo ntar bahkan belok-belok terus nyasar ke tempat lain, huehehe… kidding ah. Lanjooott…
Seperti kata Rasulullah, jika memang sudah mampu dan siap maka menikahlah. Tembak coy, tembak!!! Gitu kalo bahasa orang sekarang. Wakaka.. kasian kalo malah mati ntar bo! Kan ditembak?! DORRR!!! Hahay…. Cuman seperti yang saya kemukakan tadi, ada landasan yang harus diperhatikan supaya ntar gak oleng kedepannya. Tidak hanya sekedar memuaskan nafsu saja jika memang terlanjur jatuh cinta. Ataupun tak sekedar memenuhi target menikah karena hampir kadaluwarsa. Waduh… ngemeng epe neh gw?
Namun jika ternyata qodlo Allah berkata lain, ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, ato ternyata harapan tak sesuai dengan kenyataan, ataupun dalam perjalanannya justru lebih baik tak usah bersatu (auh, sadis euy). Siapkan keikhlasan seluas samudra bahwa itu adalah skenario cantik dari Allah untuk kita. Bukankah Allah sendiri mengatakan dalam QS 2:216 bahwa wa’asaa an takrohu syai’an wahuwa khoyrun lakum, wa ‘asaa an tuhibbu syai’an wa huwa syarrun lakum. Wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun.Terjemahannya? Ahh.. saya yakin dah pada ngerti
(sok banged nih gw). Apa? Perlu diterjemahkan? Oke deh.:p terjemahannya: Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagi kamu, dan bisa jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Dan Allah Maha Tahu sedangkan kamu tidak tahu. Begitu…
Nah, beda cerita jika gayung telah bersambut. Mempersiapkan kondisi baik fisik, psikis, maupun mafhum yang tak hanya sekedar mendalam (‘amiq) namun juga mencerahkan (mustanir) segera serius harus diwujudkan. Kalo masalah uslub mah tiap manusia beda-beda kan? Yang nulis gak lebih pinter untuk mendeskripsikan terkait uslub. Juga soal lama khitbah. Tidak ada nash yangmenyebutkan batasan untuk berapa lama.Maa syi’tum… saya gak bahas ahh.
Namun, orang-oran yang melandasinya dengan mafhum pasti akan meningkatkan kualitas mereka, ya kan? Dalam hal ini terkait khitbah, maka konsep-konsep yang dikerahkan adalah pemikiran tentang pernikahan. Ta’aruf yang dilakukan dengan adanya ikatan khitbah adalah dalam rangka untuk menikah. So, dahulukan pemikiran daripada perasaan, itu petuah dari ustadzah saya, hehe… tapi bukan berarti perasaan gak boleh dimainkan, emangnya robot? Trus habis gitu didepak ketika ada noktah yang ditemukan pada calon pasangan mereka. Wedeh… hatinya kemana tuh? Astaghfirullah, punten euy. Tapi ini nyata terjadi…
Ada juga yang lebih dominan perasaannya hingga dalam masa khitbah gak ubahnya keq orang pacaran cuman ini ada ikatan Islaminya berlabel khitbah. Wohoow… naudzubillah! Padahal, justru dalam masa khitbah itu yang akan menghantarkan bagaimana bentuk pernikahan ke depannya. Ketika perasaan mulu yang dimainkan, maka jangan kaget bentuk pernikahan nantinya akan lebih di dominasi oleh perasaan dan perasaan. Maka menyelaraskan pemikiran dan perasaan merupakan hal yang mutlak diperlukan. Sebenarnya ini konsep umum tidak dalam bab munakahat saja. Karena setiap perilaku kita harus terikat dengan hukum syara’ bukan?
Mungkin ini terkesan njlimet yah? Padahal ntar kalo dilakonin gak seribet ini kalee… wallahu a’lam!! Saya hanya bisa bilang la yukalifullahu nafsan illa wus’aha. When there is a will, there is a way. Gitu dehhh..:p
Okeh, sekarang menginjak chapter berikutnya:
NIKAH!!
Ini mah, penulis jadi bener2 belum pede untuk mengeluarkan mafhumnya. Heheh… Keqnya banyak yang lebih pakar deh :p. Ilmu gw masih se-uprit euy. Karena menikah tak hanya sekedar untuk memanifestasikan kasih sayang saja. Seperti yang saya tulis di awal-awal, pernikahan itu merupakan perjanjian berat (mitsaqan ghalidz) karena mulai saat itu kehidupan akan berbeda dengan ketika saat masih single.
Bukunya Iwan Januar yang berjudul Bukan Pernikahan Cinderella bisa dijadikan wacana. Karena pernikahan gak melulu happily ever after. Apalagi hidup di jaman edan seperti ini. Beugh.. Nikah gak mulu indah-indah doank, pahitnya juga buanyaaakkk. Sunatullah itu selalu berputar sayank…
Cerita tentang aisyah yang terkena rumor pun membuktikan bahwa rumah tangga Rasulullah juga mengalami problematika. Dalam siroh, kejadian ini dikenal dengan nama haditsul ifki. Ummul Mu’minin nan cerdasdan belia terkena fitnah, dituding berselingkuh dengan pria lain. Masalah ini merupakan masalah yang paling mengguncang rumah tangga Rasulullah saw.. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan lengkap kejadian tersebut.
Iya ey, bahkan rumah tangga Rasulullah pun mengalami permasalahan. Bagaimana tidak dengan rumah tangga orang biasa sekalipun itu rumah tangga pengemban dakwah yang ingin membentuk keluarga Idelogis??! Hehe…brainstorming nih.
Maka dari itu, memang harus ada persiapan matang atas segala sesuatunya. Seperti kata pepatah, gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Naudzubillah… Oia, ada satu lagi euy. Tentang aqod nikah dan walimah. Huhuhu… Gak jarang bahkan seorang pengemban dakwah atau aktivis harokah yang menitiksentralkan pada ritual tersebut lebih banyak kadarnya daripada hal lainnya. Cukuplah ketundukan kita terhadap aturan Allah sebagai batasannya. Bagaimana Islam mengatur tentang aqod, walimah, tabaruj, ikhtilath dalam ritual pernikahan. Sebagai orang yang bermafhum harus tau dunkz! Lianna af’alu ibad taqoyyidu bi hukmi syariy, alaysa kadzalik?
Hehey… Sebenarnya ketika pembaca menelusuri kalimat-kalimat saya ini akan tahu kalau pemahaman saya tentang pernikahan masih dangkal. Saya merendah nih… Yah, mafhum yang coba saya tuangkan sebagai reaksi dari pertanyaanyang melanda pada diri saya pribadi, sejauh mana saya memahami tentang pernikahan dan seluk-beluknya. Apalagi ketika terstimulus saat berselisih dengan shodiqoty al mahbubah itu. Tapi alhamdulillah jadi tulisan juga euy. Sebagai pelurus bagi saya juga tentunya. Alhamdulillah jika bermanfaat bagi orang lain. Dan yang penting adalah implementasi dari konsep-konsep mafhum yang telah dipunya, supaya tak sekedar menjadi kitab bergerak (kutubun muharikatun) yang oke dalam konsep tapi nul putul dalam amalan, naudzubillah (koreksi juga untuk saya pribadi ^__^). Al haqq min ar-robb.
Oleh sebab itu, berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat [al A’laa:9]
Shodaqallahu al’adziim.
Faqirut tilmidzah ^__^
Sinan Kaysa

