KONSPIRASI

Hanya ingin berbagi saja. Yang kamu lakukan hanya membedakan antara realita dan rekayasa. Dan kamu pun bisa mengambil pelajaran atasnya. (kalo kamu bisa..) hehehehe. Selamat membaca!!

GET MERIT

Filed under: Uncategorized — sinankaysa at 5:48 pm on Wednesday, January 28, 2009  Tagged

Saya geli sendiri mencantumkan judul di atas. Geli ajah. Seolah-olah nih, saya membayangkan persepsi yang terbentuk dari pembaca adalah terkait dengan saya, pernikahan, dan bla-blanya. Atau reaksi dari pernikahan yang dilakukan oleh sobat-sobat saya yang terjadi menjelang sebelum bulan suro, haha..karena pamali kalo bulan suro menyelenggarakan pernikahan gitu. Hemm.. ato apalagi yah. Apalagi coba?

Judul di atas juga mengingatkan saya akan sinema Indonesia yang dibintangi oleh Nirina Zubir. Walaupun sampai saat ini saya pribadi belum pernah melihat felm itu sama sekali, pun ketika ditayangkan di layar televisi. Padahal katanya lucu, hehe.. sebuah kata persuasif yang seharusnya menarik minat saya untuk menontonnya. Tapi gak tau nih, belum pernah liat tuh. Katrok gak sih? Haha…

Justru saya ingin menulis hal ini dan segala yang melingkupinya karena terinspirasi oleh “pertengkaran” dengan sobat yang amat sangat saya cintai. Sobat yang masih satu kota dengan saya, yang doi tuh subhanallah zuhudnya (hehe.. bandingkan dengan saya, ouch), walau kita tidak satu tempat tapi hati kita bisa diibaratkan layaknya soulmate gituh. Huhuy.. tapi saya masih normal koq, tidak mengalami disorientasi seksual. Naudzubillah.

Hiperbolis sih kalo dikatakan pertengkaran, karena kami hanya berselisih paham saja. Adu tabrak idealisme yang kami terjemahkan dalam pemahaman yang bisa kami gapai. Woooww. Dan kalo ngemeng masalah idealisme, siapa sih yang tidak ingin konsepnya yang idealis terwujud dalam kenyataan? Seperangkat mafhum adalah landasan untuk melakukan amalannya. Alaysa kadzalik?!

Maka ketika berbicara tentang pernikahan, hahah.. koq bener-bener geli yah. Ehem..serius..serius.. tapi nyante aja sih. Toh ini fitroh manusia kan? Jadi, jika bicara pernikahan maka tak lepas dari yang nama kerennya mitsaq[an] ghalidz atau dalam terjemahannya perjanjian yang berat. Huhuw, perjanjian berat bo. Yupz, penggunaan kata “mitsaq” (perjanjian) memberi makna yang sangat suci yaitu dengan adanya kesetiaan, kepercayaan, perlindungan, rasa cinta, hubungan dan pergaulan yang baik. Dengan terikat perjanjian berat ini menuntut orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk memenuhi hak dan kewajibannya.

Pembentukan keluarga akan tergantung pada kerangka pandang pemahaman suami dan istri. Ini terlihat dari bagaimana proses menuju pernikahan tersebut. (huweeh, dah mulai serius nih, huhu..). Proses yang dalam Islam dikenal sebagai khitbah. Diawali dengan ta’aruf dan yang gak kalah interestingnya, pra itu semua adalah penetapan kriteria calon pasangan, konsep dalam menjalani khitbah, pernikahan dan kehidupan pasca aqod nikah. Sounds so idealistic huh? Ya, iyalah… bukankah setiap manusia menginginkan yang terbaik? Apalagi ketika menginginkan jodoh itu berlanjut hingga kehidupan setelah dunia kelak. For once more time, alaysa kadzalik?!

Inilah yang sedikit menimbulkan percikan api antara saya dan sahabat. Heheh.. saya sedang tidak membicarakan aib kami loh ya. Saya hanya mencoba menggali lagi pemahaman dan pandangan tentang pernikahan. Dimulai dari keidealistikannya dalam memandang sosok laki-laki yang akan menjadi qowamnya kelak yang membuat saya salut tapi juga gak begitu sepakat dengannya. Uh, come on! saya sedang tidak menjadi sok idealis, pemaklum kelas berat atau entah apapun itu yang menjadi block/penghalang bagi saya untuk menjabarkan sedikit pemahamanyang masih perlu untuk dibenahi terkait dengan pernikahan.Audzubillahi min hamazati asy-syaithon. And here we go with my opinion.

Kriteria calon pasangan.

Ada banyak cerita yang masuk ke telinga saya. Mulai dari yang menginginkan calonnya hufadz qur’an dan tak peduli dengan kriteria lainnya. Walau calonnya itu tidak seberapa cantik, tidak lembut, tidak menarik, but who’s care when he got the keys? Ada yang cukup dengan wajah cantik karena yang lelaki menyadari wajahnya pas-pasan dan perlu untuk memperbaiki keturunan. Sang lelaki pun cukup pede dengan keimanan yang dia miliki. Hehe.. nyata bo!

Ada juga yang melihat dari bagaimana pola kepemimpinan sang pria. Bagaimana ketika dia memutuskan sesuatu dengan pemahamannya dalam mengaitkan dengan hukum syara’. Detail..!!! hahaha… It’s kind of variety to get the right one. Ato temen saya yang jauh di mato sono, pengennya simple sajah, kayak Nicholas Saputra. Wakaka..got it?

Yah, it’s up to us to make any list of criteria for our couple. Monggo kalo tertarik karena kecantikan, ketampanan, kepintaran, atau hal-hal interesting lainnya. Fitroh kan? Rasulullah saw. saja bersabda bahwa wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunan (nasab)nya, kecantikannya, atau agamanya. Beliau saw. pun menganjurkan untuk mengutamakan agama.

Idzan, ad-diinu huwa waasi’un. Agama itu luas. Mo yang bagian mananya? Kullu? Semua? Atau cukup seperti contoh di atas, yang penting hufadz qur’an yang lainnya gak masyalah.. biar dia jelek, gak bisa masak, srugal-srugul, gendut (wehehe, saya sadis banged yaks kalo nyontohin). Ato gak papa gak apal qur’an yang penting dewasa, bisa memecahkan persoalan sesuai dengan mafhum, mau dibimbing, cantik, sabar, gak ngrepotin, haduhh… ini contoh saya tepat tidak sih? :p

Tapi yang saya gak sepakat, kadang banyak yang sibuk berkutat pada kriteria sempurna –ato justru malah minder dan merasa gak layak dengan calon yang ada dihadapannya?. Jadi inget ama kata seorang penulis buku, nikah aja sama kitab pembinaan kalo menginginkan kesempurnaan. Manusia itu tempatnya salah dan lupa, malaikat donk kalo sampe gak punya salah. Selama kriteria itu realistis dan terjangkau, dikembalikan lagi pada pemahaman manusia sampai sejauh mana dia mampu merealisasikannya.

Disinilah yang menjadi misunderstood saya dan sobat saya itu. Parameter dalam mengkatalisir list-list kriteria, hingga permakluman-permakluman akan ketidaksempurnaan seorang manusia. Yah, saya berpendapat hal ini dikembalikan lagi pada dirinya sendiri sejauh mana keidealitasan itu dia pertahankan dan ketika terbentur pada realitas bahwa NO BODY IS PERFECT. Kadang yang terjadi seseorang sibuk mendelete list hanya karena satu kriteria tidak terpenuhi. Weh, kejam banged yaks? Padahal kalo sudah terselimuti oleh yang namanya VMJ (virus merah jambu) bisa jadi laen ceritanya. Hadoooh…

Ada cerita menarik di jaman nabi saw dulu. Seorang laki-laki yang kaya dan rupawan mencintai seorang wanita dan hendak melamarnya . Yang menjadi halangan adalah laki-laki tersebut kafir. Wanita itu pun mengajukan syarat ia mau menerima ajakan menikah sang laki-laki asalkan dia masuk Islam, dan mencukupkan diri dengan mahar keislaman lelaki tersebut. Dan subhanallah, dari pernikahan keduanya membawa barokah yang luar biasa. Mereka adalah Ummu Salamah dan Abu Salamah. Tapi maaf, saya bener2 lupa ceritanya gimana dan pernah membaca di mana. Tolong dikoreksi kalo salah.

Saya suka dengan cerita ini karena menjadi pelajaran tersendiri bagi saya. Tak usah muluk-muluk dan njilemitisasi dengan berbagai macam kriteria pasangan. Mubah sih mematok kriteria. Tapi menurut saya hanya akan menjerumuskan diri pada kesulitan jika kriteria itu saklek dan harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Saya pernah membaca sebuah hadits dari rasulullah (tapi lagi2 lupa bagaimana matan-nya, bener2 dhoif banged ya saya?) bahwa kita dilarang untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa kita gapai. Haduuuhh, lupa! Intinya tetap realistis. Padahal masih banyak hal lainnya yang pasti akan menjadi keindahan tersendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan kita sebagai manusia. Maka pegang basic, hal lainnya akan bisa ditelusuri dan dipahami (saling memahami) ketika hubungan sudah memasuki tahap berikutnya.

Nah, pemahaman inilah yang akan menghantarkan pada peta pemikiran untuk menuju ke perjanjian berat. Yang namanya peta pemikiran itu dapat tergambar dengan baik ketika calon pasangan mempunyai visi dan misi yang sama/searah tentang pernikahan. Visi dan misi tidak mesti bahwa kedua pasangan mempunyai latar belakang yang sama. Atau kalau mau lebih dzohir lagi, tidak mesti harus satu harokah (eh..eh… saya jadi fokusnya sama mereka2 yang dah mafhum Islam ato bahasa kerennya aktivis harokah). Hehe… Tidak menjamin ketika satu harokah maka akan sama dalam memandang pernikahan, tergantung mafahim (pemahaman), maqayis (standar), dan qonaat(keyakinan) yang mereka pegang dan sejauh mana bisa diimplementasikan. Pertimbangan pola pikir adalah mempertimbangkan sejauh mana pengetahuan yang dijadikan standar. Tentunya (thob’an) hal ini lebih mudah bagi orang-orang yang satu harokah. Gak bingung kan?

Penting juga untuk mengetahui orientasi hidup pasangan. Hal ini terkait dengan apa yang dijadikan sebagai poros aktivitas. Yang namanya poros, maka akitivitas lain akan berjalan mengikuti poros tersebut. Jika aktivitas itu tidak sejalan (berbenturan) dengan poros hakikatnya tidak bisa berputar bersama poros. Maka aktivitas itu wajib ditinggalkan. Seorang muslim diperintahkan untuk berputar sebagaimana perputaran poros Islam sesuai dengan sabda nabi saw. yaitu Ingatlah sesungguhnya poros Islam selalu berputar maka berputarlah sebagaimana ia berputar [HR. Thabrani].

Menjadikan Islam sebagai poros maknanya adalah agar kita beraktivitas sesuai dengan ketentuan-ketentuan Islam. Hanya saja saat ini Islam tidak lagi menjadi sebuah qoidah (kaidah) dan qiyadah (kepempinan) berfikir umat sehingga harus diperjuangkan dengan dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam.Maka, keterikatan akan Islam dan dakwah memperjuangkan implementasi Islam harus dijadikan poros aktivitas muslim (apalagi aktivis harokah :D). Partner (pasangan hidup) yang memiliki orientasi sama dalam memandang poros aktivitas akan memberi gambaran yang jelas akan di bawa ke arah mana perjalanan biduk rumah tangga.

Mmm… mari lanjut ke penjelasan berikutnya, mumpung saya bener-bener bersemangat untuk menggali lagi mafhum Islam terkait dengan pernikahan.

KHITBAH

Dalam sebuah buku berjudul Risalah Khitbah karangan Yahya Abdurahman disebutkan bahwa masalah meminang merupakan bagian dari sistem hidup. Masalah ini harus ditempatkan sebagai bagian dari aturan-aturan sistem interaksi yang merupakan bagian dari sistem hidup Islam secara keseluruhan. Dari pandangan ini maka ada beberapa hal yang harus mendasari pinangan yaitu:

  1. Melandasinya dengan aqidah
  2. Manifestasi kecintaan kepada Rasulullah saw.
  3. Mewujudkan tujuan penciptaan laki-laki dan perempuan
  4. Mewujudkan Keluarga Sakinah Mawadah wa Rahmah
  5. Mewujudkan Generasi Islami.

Untuk pendetailannya silahkan baca sendiri di buku itu, wakaka.. karena toh ini bukan tulisan ilmiah yang berisi teori paradigmatis untuk memilih pasangan dan meminang. Hehe.. Lagipula saya juga males kalo hanya sekedar copas tanpa saya pribadi memahaminya lebih jauh. Jadi…. :p

Yang menggelitik saya (lagi, gelitikan baru), dimanakah letak cinta? Bagaimana jika kita mencintai seseorang sebelum waktunya? Maksudnya di sini, cinta kepada lawan jenis merupakan fitroh dari naluri yang ada pada diri manusia. Sehingga keberadaannya merupakan fitroh juga ketika suatu waktu datang bertubi-tubi tanpa ampun melalui virus merah jambu menyala yang menyebabkan sistem pertahanan manusia jadi melemah dan terkena penyakit akut: JATUH CINTA!

Ya ya ya ya…. lagi-lagi secara paradigmatis orang-orang yang bermafhum akan mengatakan secara sistematis untuk mengembalikan lagi kecintaan yang shohih hanya karena Allah. Itu betul, saya sangat sepakat sekali. Dan alangkah lebih baiknya ketika konsep paradigmatis tadi tertuang dengan cara bagaimana mengatasi atau mengobati penyakit akut bernama JATUH CINTA. (haha.. interesting words, isn’t it?)

Kalo gini jadi inget sama lagunya Titik Puspa yang di aransemen ulang dan dinyanyikan dengan lucu bin konyol oleh Project Pop. Jatuh cinta, berjuta rasanya…Saya seneng lagu ini dalam beberapa kesempatan, karena memang fitrohnya seperti itu. Terutama yang lirik ini, dia jauh, woi ngapain di situ, siniii
dia dekat, aku senang hahahahaha
dia aktif, aku jadi lebih hiperaktif, hihihi
dia diem, zzzzzz yah tidur
oh repotnya

Sekedar mengamati fakta dan mengkait-kaitkannya. Heheh… mungkin bagi sebagian orang, lagu ini bener2 gombal tenan, gak penting, picisan, etc. Tapi emang bener seperti itu kan rasanya? Bener gak sih? Gw kan belum pernah jatuh cinta, wakakak… (ngibuljayuz dot com).

Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, ketika seseorang jatuh cinta, akan tampak ciri-cirinya sebagai berikut:

  • Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai).
  • Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya.
  • Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia daripada diri dan harta sendiri, seia sekata dengannya baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang.
  • Mengembaranya hati karena mencari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya.
  • Menyibukkan diri untuk mengenang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.

Beuh.. romantis bener yaks? Ampe merinding nih si bang roma. :p

Tapi tidak usah berpanjang ria dengan fakta dan definisi cinta. Jika cinta tidak ditempatkan pada tempatnya hanya akan membuat sengsara. Pukul saja kesadaran ketika virus itu mulai menyerang. Kondisi keimanan benar-benar mempunyai pengaruh signifikan terhadap realitas cinta-mencinta. Idrok sillah billah atau kesadaran hubungan dengan Sang Pencipta dapat menjadi parameter untuk mengukur sejauh mana cinta itu bisa dikendalikan ke arah yang benar. Huhu… sepertinya saya sedang berfilosofis nih.

Rasulullah pun bersabda tentang cinta:

Tiga perkara jika terdapat di dalam diri seseorang maka dengan perkara itulah dia akan memperoleh kemanisan iman: Seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia juga tidak suka dicampakkan ke dalam neraka.”

Yo! semua itu akan terasa manis ketika dikembalikan lagi pada jalan yang tepat. Sambil tetep menjaga hubungan dengan sang Pencipta supaya kita tidak semakin terperosok lebih dalem lagi ke lembah percintaan yang belum halal. Huehehe… Ahh, saya yakin pembaca juga banyak yang lebih tau dari saya bagaimana menjaga diri dengan baik dan benar (jika si pembaca orang yang baik dan benar tentunya).huhuhu…sok yakin saja ah saya ;p. Peningkatan ibadah mahdoh melalui ritual sunnah maupun puasa seperti yang dianjurkan oleh rasulullah, juga dengan mengalihkannya ke kegiatan fisik mubah yang positif dan mencerahkan fa insya Allah akan menjaga kesehatan otak dan raga kita dari penyakit akut disebabkan VMJ.

“Jadi, bagaimana dengan pembahasan khitbah? Koq sepertinya kamu muter-muter aja sih?” sahut sebuah suara di pojok sana.

Aih, muter-muter kah? Kan sudah saya beritahu di awal kalo ini bahasa saya, so terserah saya to kalo ntar bahkan belok-belok terus nyasar ke tempat lain, huehehe… kidding ah. Lanjooott…

Seperti kata Rasulullah, jika memang sudah mampu dan siap maka menikahlah. Tembak coy, tembak!!! Gitu kalo bahasa orang sekarang. Wakaka.. kasian kalo malah mati ntar bo! Kan ditembak?! DORRR!!! Hahay…. Cuman seperti yang saya kemukakan tadi, ada landasan yang harus diperhatikan supaya ntar gak oleng kedepannya. Tidak hanya sekedar memuaskan nafsu saja jika memang terlanjur jatuh cinta. Ataupun tak sekedar memenuhi target menikah karena hampir kadaluwarsa. Waduh… ngemeng epe neh gw?

Namun jika ternyata qodlo Allah berkata lain, ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, ato ternyata harapan tak sesuai dengan kenyataan, ataupun dalam perjalanannya justru lebih baik tak usah bersatu (auh, sadis euy). Siapkan keikhlasan seluas samudra bahwa itu adalah skenario cantik dari Allah untuk kita. Bukankah Allah sendiri mengatakan dalam QS 2:216 bahwa wa’asaa an takrohu syai’an wahuwa khoyrun lakum, wa ‘asaa an tuhibbu syai’an wa huwa syarrun lakum. Wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun.Terjemahannya? Ahh.. saya yakin dah pada ngerti :D (sok banged nih gw). Apa? Perlu diterjemahkan? Oke deh.:p terjemahannya: Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagi kamu, dan bisa jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Dan Allah Maha Tahu sedangkan kamu tidak tahu. Begitu…

Nah, beda cerita jika gayung telah bersambut. Mempersiapkan kondisi baik fisik, psikis, maupun mafhum yang tak hanya sekedar mendalam (‘amiq) namun juga mencerahkan (mustanir) segera serius harus diwujudkan. Kalo masalah uslub mah tiap manusia beda-beda kan? Yang nulis gak lebih pinter untuk mendeskripsikan terkait uslub. Juga soal lama khitbah. Tidak ada nash yangmenyebutkan batasan untuk berapa lama.Maa syi’tum… saya gak bahas ahh.

Namun, orang-oran yang melandasinya dengan mafhum pasti akan meningkatkan kualitas mereka, ya kan? Dalam hal ini terkait khitbah, maka konsep-konsep yang dikerahkan adalah pemikiran tentang pernikahan. Ta’aruf yang dilakukan dengan adanya ikatan khitbah adalah dalam rangka untuk menikah. So, dahulukan pemikiran daripada perasaan, itu petuah dari ustadzah saya, hehe… tapi bukan berarti perasaan gak boleh dimainkan, emangnya robot? Trus habis gitu didepak ketika ada noktah yang ditemukan pada calon pasangan mereka. Wedeh… hatinya kemana tuh? Astaghfirullah, punten euy. Tapi ini nyata terjadi…

Ada juga yang lebih dominan perasaannya hingga dalam masa khitbah gak ubahnya keq orang pacaran cuman ini ada ikatan Islaminya berlabel khitbah. Wohoow… naudzubillah! Padahal, justru dalam masa khitbah itu yang akan menghantarkan bagaimana bentuk pernikahan ke depannya. Ketika perasaan mulu yang dimainkan, maka jangan kaget bentuk pernikahan nantinya akan lebih di dominasi oleh perasaan dan perasaan. Maka menyelaraskan pemikiran dan perasaan merupakan hal yang mutlak diperlukan. Sebenarnya ini konsep umum tidak dalam bab munakahat saja. Karena setiap perilaku kita harus terikat dengan hukum syara’ bukan?

Mungkin ini terkesan njlimet yah? Padahal ntar kalo dilakonin gak seribet ini kalee… wallahu a’lam!! Saya hanya bisa bilang la yukalifullahu nafsan illa wus’aha. When there is a will, there is a way. Gitu dehhh..:p

Okeh, sekarang menginjak chapter berikutnya:

NIKAH!!

Ini mah, penulis jadi bener2 belum pede untuk mengeluarkan mafhumnya. Heheh… Keqnya banyak yang lebih pakar deh :p. Ilmu gw masih se-uprit euy. Karena menikah tak hanya sekedar untuk memanifestasikan kasih sayang saja. Seperti yang saya tulis di awal-awal, pernikahan itu merupakan perjanjian berat (mitsaqan ghalidz) karena mulai saat itu kehidupan akan berbeda dengan ketika saat masih single.

Bukunya Iwan Januar yang berjudul Bukan Pernikahan Cinderella bisa dijadikan wacana. Karena pernikahan gak melulu happily ever after. Apalagi hidup di jaman edan seperti ini. Beugh.. Nikah gak mulu indah-indah doank, pahitnya juga buanyaaakkk. Sunatullah itu selalu berputar sayank…

Cerita tentang aisyah yang terkena rumor pun membuktikan bahwa rumah tangga Rasulullah juga mengalami problematika. Dalam siroh, kejadian ini dikenal dengan nama haditsul ifki. Ummul Mu’minin nan cerdasdan belia terkena fitnah, dituding berselingkuh dengan pria lain. Masalah ini merupakan masalah yang paling mengguncang rumah tangga Rasulullah saw.. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan lengkap kejadian tersebut.

Iya ey, bahkan rumah tangga Rasulullah pun mengalami permasalahan. Bagaimana tidak dengan rumah tangga orang biasa sekalipun itu rumah tangga pengemban dakwah yang ingin membentuk keluarga Idelogis??! Hehe…brainstorming nih.

Maka dari itu, memang harus ada persiapan matang atas segala sesuatunya. Seperti kata pepatah, gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Naudzubillah… Oia, ada satu lagi euy. Tentang aqod nikah dan walimah. Huhuhu… Gak jarang bahkan seorang pengemban dakwah atau aktivis harokah yang menitiksentralkan pada ritual tersebut lebih banyak kadarnya daripada hal lainnya. Cukuplah ketundukan kita terhadap aturan Allah sebagai batasannya. Bagaimana Islam mengatur tentang aqod, walimah, tabaruj, ikhtilath dalam ritual pernikahan. Sebagai orang yang bermafhum harus tau dunkz! Lianna af’alu ibad taqoyyidu bi hukmi syariy, alaysa kadzalik?

Hehey… Sebenarnya ketika pembaca menelusuri kalimat-kalimat saya ini akan tahu kalau pemahaman saya tentang pernikahan masih dangkal. Saya merendah nih… Yah, mafhum yang coba saya tuangkan sebagai reaksi dari pertanyaanyang melanda pada diri saya pribadi, sejauh mana saya memahami tentang pernikahan dan seluk-beluknya. Apalagi ketika terstimulus saat berselisih dengan shodiqoty al mahbubah itu. Tapi alhamdulillah jadi tulisan juga euy. Sebagai pelurus bagi saya juga tentunya. Alhamdulillah jika bermanfaat bagi orang lain. Dan yang penting adalah implementasi dari konsep-konsep mafhum yang telah dipunya, supaya tak sekedar menjadi kitab bergerak (kutubun muharikatun) yang oke dalam konsep tapi nul putul dalam amalan, naudzubillah (koreksi juga untuk saya pribadi ^__^). Al haqq min ar-robb.

Oleh sebab itu, berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat [al A’laa:9]

Shodaqallahu al’adziim.

Faqirut tilmidzah ^__^

Sinan Kaysa

.o0~masih tentang hal itu~0o.

Filed under: Uncategorized — sinankaysa at 9:52 pm on Thursday, January 1, 2009

tak hanya tentang cinta
tak sekedar asa yang membara
prioritas,
pun tak seperti permainan dadu
maka tetap saja melaju
jangan biarkan kotak itu menghalangi derap langkah
jangan biarkan nafas itu kembali lara mendesah

kembalilah menjemput kematian
kematian yang tak sekedar menjadi tidur panjang
hiduplah kembali sebagai bidadari
yang air matanya dapat membuat tawar asinnya lautan
terbanglah tinggi, tinggi sekali
membumbung hingga langit ketujuh

~~~fiuhhh…~~~

..JIKA CINTA ADA KETERTAWANAN,TAWANLAH CINTAKU HANYA UNTUKMU, AGAR TIADA CINTA LAIN YANG MENAWANKU….

…. وأمِتْها عَلَي الشَّهادَةِ فِي سَبِيْلِكَ ….

baabu as-sifru

Filed under: Uncategorized — sinankaysa at 9:47 pm on Thursday, October 23, 2008

sudah cukup lama juga nih tidak nge-blog di fs, selain karena udah punya mainan baru di multiply (walopun sebenarnya udah lama juga sih), udah gitu, fs tidak menjadi something interesting lagi buat gw. Hmm… knapa yaks? ^_^,
belon lagi, banyak account di beberapa situs laen seperti di facebook, plurk, hi5, tagged yang kalo dijabanin bakal keoq sendiri.. Jadinya cuman asal ajah, asal sign up udah gitu gak diapa2in lagi, ditinggal begitu saja. Itung2 lumayan mengobati sedikit rasa penasaran yang muntug2 menggejolak dalam jiwa (hayyah.. moga saja tidak kumat neh, hihihi..:p)

kalo di MP, gw gi cerita tentang “penyakit” gw yang beberapa hari ini menyerang dengan ganas. Tau gak penyakitnya apaan? Hohoh… tak usah dah. Sangat tidak penting sama sekali. Dan akhirnya berujung pada kelakuan minus seorang yang sok ngaku2 pengen jadi jenius, namun gitu itu… masih suka bolos!!! Hauhh..

tapi neh, sekalinya masuk bukannya cengar-cengir eh malah merosot dari kursi. Sakit banget nih pinggang bagian belakang rasanya, hiks… T_T  tapi plis deh, tidak butuh rasa kasihan (back sound: sapa yang mo kasian sama lu mbak??!!) heheh… udah muka jadi pucat keq mayat, tapi masih sempet dapet pujian dari seorang Madam. Doi bilang, “eh tapi aku seneng loh liat kamu sakit keq gini, wajahnya keliatan putih dan bibirnya memerah..”

gw yang gi lemes dan mata kriyep-kriyep langsung aja gak sopannya bilang, “weehh… berarti kalo lagi normal gak canteeek donk!” dan kami pun tertawa, huahahah…
(coment: mungkin emang kecantikan gw itu baru terlihat kalo pas lagi kumat yah, weeeksss..)

hahahah…
satu hal bow, kenapa postingan gw jadi asal gene yaks? Ah.. tidaks apa2. Tidak harus gw menguak konspirasi2 dunia tingkat tinggi hanya untuk nge-post di blog yang jadi ajang esksistensi dan kenarsisan. alaysa kadzalik??. lagian, intelnya sedang ada job laen gara2 krisis Global yang terjadi sekarang. Nyambung?!  pssst…Gw aja kagak tau maksud kalimat yang barusan gw ketik ni paan? Hayaksss… :p

dan lagi, hari ini menjadi salah satu dari hari spesial gw karena gw belajar salah satu hal yang penting tentang kehidupan. Bukan… bukan masalah sakit ganas yang sedang gw alami atopun merosotnya gw dari singgasana kelas atopun membolos yang bikin ketagihan. Hufffh.. itu mah, gw-nya aja yang super :p .

Sebuah kejadian bersama kawan baik, menyadarkan gw bahwa hidup itu tidak hanya sekedar memilih, dipilih dan terpilih, berfikir dan merasa, terjebak untuk kemudian bangkit lagi, menjadi ekslplisit ato mau melarikan diri, weits.. *maksudnya paan ne???* tapi ada pembelajaran dalam berkonsekwensi yang menyadarkan gw bahwa Allah adalah Al-Kholiq Al-Mudabbir, huwa alladzi laa ilaha ila huwa ar-rohmanu arrohimi. Al maliku al qudusu as-salamu al-mu’minu al’muhayminu alziizu al jabbar… heheh.. napa jadi asmaul husna neh??!!

Yah begitulah. Gw sendiri jadi ngaco kalo dah gini. Itung2 nambah bobot blog FS gw aja dah yang udah lama gak di update. Kalo yang berjengit tanda tak sepokat ato ngira gw bego ato ngira gw cantik, ahayyy… terserah euy. Gw mah makasih aja karena emang aslinya cantik koq *mata kedip2 dan pipi tersipu malu* hahaha… mutah dulu yaks. Huekcs.

9.31 pm

HIBERNASI (next chapter)

Filed under: Uncategorized — sinankaysa at 5:36 am on Wednesday, October 8, 2008

Apakah kau tahu?

Ada saat dimana kau mengalirkan dirimu laksana air yang mengalir. Ketika tenang maka kau pun ikut tenang dalam alirannya. Tetapi ketika menurun deras dan menghujam, maka kau pun terseret sebagaimana air membawamu menuju ke tempat yang lebih rendah.

Namun tiba saatnya kau untuk menentang arus yang telah membawamu jauh. Keterlenaanmu akan aliran air yang tenang namun menghanyutkan, ketika tak dalam maka ia beriak. Kau pun memutuskan untuk beranjak dari zona kenyamananmu. Seluruh permainan perasaan yang coba kau ikuti, segala pergolakan pemikiran yang menyetrum alam sadarmu. Kini tiba saatnya kau beralih menuju sebuah tantangan baru. Menantang arus yang selama ini melenakanmu.

Dan kau sadar keberanjakanmu dari zona itu tak semudah mengangkat kakimu untuk kau pijakkan ke tanah baru. Kau memilih untuk membebaskan dirimu dari ketakutan-ketakutan yang hanya akan membinasakan akal sehatmu. Kau memilih untuk menjual dirimu demi harga yang tak akan pernah kau dapatkan dengan nilai yang ada di bumi dan langit… dan kau sadar harga yang akan kau bayar tak semudah seperti kau membalikkan telapak tanganmu.

….

Filed under: Uncategorized — sinankaysa at 2:06 am on Sunday, September 7, 2008

Bahwa sebuah perjalanan

Ada saat tuk berhenti

Mengumpulkan tenaga,

Tuk kemudian melanjutkan kembali

Jangan pernah menyerah, kawan

Selalu ada kesempatan dalam setiap kesempitan

Selalu ada senyum tulus pada tiap tolehan muka

Dan akan ada pegangan yang sesungguhnya

Yang akan menemanimu

Saat kau tak kuasa lagi tuk berdiri tegak

Menyongsong perjalanan yang masih panjang terbentang

07 ramadhan 1429 H

-dalam penantian-

Nb: menanti sang muadzin mengumandangkan adzan maghrib

(buka puasaaaaaaaa… masih satu stengah jam lagi negh..)

AhlAn

Filed under: Uncategorized — sinankaysa at 3:40 am on Thursday, July 3, 2008

Hukum kematian manusia masih terus
berlaku,

karena dunia juga bukan tempat yang kekal
abadi.

Adakalanya seorang manusia menjadi
penyampai berita,

dan esok hari tiba-tiba menjadi bagian
dari suatu berita,

ia dicipta sebagai makhluk yang senantiasa
galau nan gelisah,

sedang engkau mengharap selalu damai nan
tenteram.

Wahai orang yang ingin selalu melawan
tabiat,

engkau mengharap percikan api dari
genangan air.

Kala engkau berharap yang mustahil
terwujud,

engkau telah membangun harapan di bibir
jurang yang curam.

Kehidupan adalah tidur panjang, dan
kematian adalah kehidupan,

maka manusia di antara keduanya; dalam
alam impian dan khayalan

Maka, selesaikan segala tugas dengan
segera, niscaya umur-umurmu,

akan terlipat menjadi lembaran-lembaran
sejarah yang akan ditanyakan.

Sigaplah dalam berbuat baik laksana kuda
yang masih muda,

kuasailah waktu, karena ia dapat menjadi
sumber petaka

Dan zaman tak akan pernah betah menemani
Anda, karena ia

akan selau lari meninggalkan Anda sebagai
musuh yang menakutkan

dan karena zaman memang dicipta sebagai
musuh orang-orang bertakwa.

 

[Laa Tahzan
hal.94]

 

…Allahuma
bariklana rojab wa sya’ban wa balighna Romadhon…

a luuzer repolution

Filed under: Uncategorized — sinankaysa at 4:35 pm on Sunday, June 8, 2008

Hidup dalam satu
tahun ini bagi saya terasa sangat berarti. Satu tahun semenjak saya lebih
memahami berbagai hal dengan lebih mendalam. Bukan berarti di tahun-tahun
sebelumnya tidak memiliki arti apa-apa. Tapi jujur saja, semenjak saya bergabung
di friendster, ketika mengenal berbagai macam karakter yang kadang mengagetkan
bagi saya, ada hal-hal lain yang membelalakkan mata dan memperkaya sudut
pandang atas segala sesuatu yang kadang bahkan gak sampe terfikirkan.

 
Sebenarnya udah
lama saya tahu situs friendster. Tapi waktu itu saya pikir hanya buang-buang
waktu saja untuk join di dalamnya. Sampe kira-kira setahun yang lalu, kerena
sesuatu hal yang sebenarnya di luar dugaan, join –lah saya di friendster.
Bertemu lah kemudian saya dengan sobat-sobat dengan berbagai macam
kharakteristik mereka dan akhirnya langsung tidak langsung mempengaruhi settingan
saya dalam berfikir dan memutuskan tindakan.

 
Setahun lebih
telah berlalu. Saya jadi semakin memahami bagaimana pola tingkah laku
kawan-kawan, yang kadang bikin tertawa ngakak, tersenyum manis, datar alias
biasa saja, sedih, sampe bikin nangis juga pernah. Tapi itu adalah episode
kehidupan bukan? Justru dari sanalah banyak pembelajaran yang dapat saya ambil.
KaLO dalam iklannya pasta gigi, saya jadi lebih bisa SPEAK UP, mengeluarkan apa
yang tertimbun dalam benak, yang kalo gak dikeluarin bisa kena efek bisulan,
hehehe…, saya jadi ketemu ama para soulmate saya di seluruh belahan dunia
(soulmate dalam arti tertentu), dan kemudian, akhirnya saya bisa duduk manis di
depan komputer saat ini dan membagikannya kepada kamu.

 
Hidup bagi kita
adalah pembelajaran bukan? Beberapa menit yang lalu saya ditelpon ama salah
satu sobat saya di luar pulo hanya untuk mengecek nomer saya. Sayanya sih
gebleg menggembar-gemborkan nomer GSM baru tanpa menulis identitas saya.
Bingunglah dia. Dari situ kemudian kita saling bercerita, setelah hampir satu
tahun tak pernah ngobrol by phone dan jarang ber-SMS ria, ada kerinduan
menyeruak dalam dada. Sebelumnya juga, saya telpon2an dengan sobat sekota saya
yang beda kampus pake CDMA, berbagi pengalaman yang bisa jadi tak bisa
diungkapkan dengan sembarangan. Bahkan sehari sebelumnya, saya dan sobat satu
kampus berbicara face to face sambil nyangkruk di halaman rumahnya dengan gaya
sok preman, hehehe…sambil makan mangga langsung ambil metik dari pohon.
Berbicara tentang kehidupan, persahabatan, perjuangan dan lika-likunya. Menjadi
pendengar yang baik, dan bercerita secara ekspressif.

 
Sampai akhirnya
ketika sobat saya yang di luar pulo itu menanyakan, “Kamu sudah menemukannya
kan Nan?” saya pun me-recall apa yang jadi topik kami tempoe doelo dan
mengatakan bahwa ini sebenarnya ternyata tidak tentang ‘ya saya menemukan’ atau
‘tidak saya belum menemukannya’, dan
ternyata itu butuh waktu tuk mempelajarinya. But I love it! Karena waktu, kita
bisa menjadi pemenang dalam episode kehidupan kita tanpa perlu malu tuk terseok
menjadi pecundang terlebih dahulu.

 
16 November 2007  

ONLY HUMAN

Filed under: Uncategorized — sinankaysa at 8:46 am on Friday, June 6, 2008

Disguise

Easier_to_run

From_the_inside

In_between

malang in memory….
KEGUNDAHAN ITU PASTI ADA
KERESAHAN MASIH MELANDA JIWA
yang dibutuhkan mungkin, hanya KETEGASAN
V ^__^ V

nb: selingan akibat mumet (ki ndas rasane pengen pecah) memikirkan kondisi yang memacu adrenalin..hehe…

SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM “AYAT-AYAT CINTA”

Filed under: Uncategorized — sinankaysa at 7:51 am on Thursday, May 8, 2008

- Oleh: Bambang
Noorsena, SH, MA *

 
1. Catatan
Pengantar

 Fenomena sukses
film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Brahmantyo ini adalah menarik
untuk dicermati. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman
el-Shirazy ini dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3
juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton karena memang lebih dahulu
sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya “sekedar ingin tahu", karena
penyambutan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP
Muhammadiyah, akan tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf
Kala, yang memberikan sambutan antusias.

 
Ada yang memuji,
ada pula yang menanggapi biasa-biasa saja. Ada apa di balik novel dan film ini?
Beberapa orang berkomentar, “ini iklan poligami”, “referensi baru buat pemilik
rumah makan Wong Solo", tetapi ada pula yang serius mencermati kaitan film
dan novel ini dengan hubungan Kristen-Islam di Mesir. Artikel singkat ini,
mungkin tergolong yang terakhir, kebetulan tokoh Maria Girgis, yang digambarkan
berasal dari keluarga Kristen Koptik, Gereja pribumi di Mesir, sebagai Gereja
Ortodoks terbesar di dunia Arab. Sebagai seorang pengamat Gereja-gereja Timur,
kenyataannya saya menemukan beberapa kejanggalan mengenai tradisi Kristen
Koptik, yang digambarkan "secara sambil lari" dalam film ini.

 

2. Sekilas
Film "Ayat-ayat Cinta"

 Sebelum memberi
beberapa catatan terhadap novel dan film ini, bagi yang tidak membaca novel
atau menonton film ini, akan disarikan cerita yang diangkat oleh novelis muda
lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo, ini :

 
Dikisahkan, Maria
Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame Nafed bertetangga flat
(apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas
al-Azhar. Maria, terlahir dari keluarga Kristen Koptik, digambarkan mengagumi
Al-Qur’an, karena ayat-ayatnya yang dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri.
Simpati yang akhirnya berubah menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah
mengutarakan perasaan hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam diary saja.

 
Selain Maria, ada
juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal Indonesia, anak seorang
kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri
menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta itu dihalangi oleh perasaan
mindernya, karena Fahri hanya anak seorang petani. Cinta yang akhirnya tak
terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu disiksa "ayahnya", dan
Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang menjadi awal bencana
baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara, karena tuduhan fitnah
telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat itu Fahri sudah menikah
dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga Negara Jerman. Pendekatan
diplomatik Indonesia buntu, gagal membebaskan Fahri.

 
Tetapi berkat
kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir melunak. Fahri
bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka. Sebenarnya Fahri
hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di bawah tekanan
Bahadur, "ayah"nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah
kandungnya, justru dialah yang memerkosanya, dan ingin menjualnya menjadi
seorang pelacur. Sementara itu, Maria sedang sakit, karena tekanan batin yang
dideritanya karena Fahri telah menemukan “sungai Nil"-nya, dan dia
ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria
berhasil dihadirkan ke pengadilan. Kedatangannya menolong Fahri, karena ia
menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di rumah Nurul, demi
menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.

 
Justru Aisha
sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca diary-nya. Ternyata Maria
memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia terbaring sakit.
Aisha terharu. Ia akhirnya bersedia "membagi cinta" dengan Maria.
Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah satu-satunya obat bagi
kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas restunya. Madamme Girgis, ibu
Maria, sangat berterima kasih dengan pengorbanan Aisha. Madamme Girgis memeluk
erat Aisha, ketika wanita keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang
sedang diselenggarakan antara Fahri dan Maria yang sedang berbaring sakit,
karena tidak bisa menahan gejolak jiwanya. Beberapa menit terakhir film ini
diisi dengan adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu
antara kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras "menjaga
hati". Sementara Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya.
Aisha sedang hamil tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali
jatuh sakit. "Ajarilah aku shalat", ucap Maria kepada Fahri,
"karena aku ingin shalat bersama kalian". Fahri dan Aisha terkejut
luar biasa. Dan dalam keadaan terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha,
dan gadis Kristen Koptik itu mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang
muslimah.

 
3. Tradisi
Kristen Koptik di Mesir - Selayang Pandang

 Gereja Ortodoks
Koptik adalah gereja pribumi Mesir. Gereja ini lahir sejak awal sejarah
Kekristenan, diawali dari kedatangan Rasul Markus, murid Rasul Petrus sekaligus
penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil Markus . Markus mati
syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu Kekristenan berkembang
pesat di "Negeri Firaun" itu.

 
Berbeda dengan
gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja Ortodoks Syria, yang
sejak sebelum zaman Islam sudah menggunakan bahasa Arab, terbukti dari
temuan-temua prasasti pra-Islam di wilayah Syria (Inskripsi Zabad tahun 512 M,
Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568
M), Gereja Koptik mula-mula memakai bahasa Koptik. Tetapi setelah kedatangan
Islam, Gereja Koptik di Mesir mulai memakai bahasa Arab, berdampingan dengan
bahasa Koptik. Bahasa Koptik adalah bahasa zaman Firaun yang aksara-aksaranya
diperbarui dengan meminjam aksara Yunani.

 
Perlu dicatat
pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks Koptik, masih
dilestarikan tata-cara ibadah dalam penghayatan budaya Kristen mula-mula.
Misalnya: Shalat Tujuh Waktu (Sab’ush shalawat), Shaum al-Kabir (Puasa Besar)
pra-Paskah, selama minimal 40 hari, membaca Injil dengan cara dilantunkan
secara tartil (dikenal dengan Mulahan Injil- yang para­lel dengan Tilawat
al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Anda bisa menyaksikan seorang pemuda yang
komat-kamit membaca Kitab di tangannya sewaktu naik bus, atau kendaraan lain di
Mesir. Siapakah mereka? Ternyata bukan hanya pemuda Islam yang membaca
al-Qur’an, tetapi juga pemuda-pemuda Koptik dengan tatto Salib di tangan sedang
membaca kitab Agabea. Itulah Kitab Shalat Tujuh waktu, yang tidak pernah mereka
alpakan, juga ketika mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau
berangkat ke kampus.

 
Informasi
terakhir, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir sama-sama berbahasa
Arab, tetapi antara keduanya tetap bisa dibedakan. Idiom-idiom keagamaan mereka
berbeda, tetapi juga tidak jarang pula sama atau paralel. Di koran-koran
berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang Kristen biasanya diawali ungkapan :
Intiqala ila Amjadis samawat (Telah berpulang kepada Kemuliaan Surgawi), cukup
mudah dibedakan dengan kaum Muslim: Inna Iillahi wa Inna Ilayhi Raji’un
(Sesungguhnya semua karena Allah dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tapi
ada banyak persamaan tradisi, misalnya: pertunangan, perkawinan, kematian, dan
masih banyak lagi.

 

4. Resensi
atas Novel dan Film "Ayat-ayat Cinta"

 Kalau tidak
berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi sebuah film.
Saya hanya ingin memberi beberapa catatan atas beberapa tradisi Mesir pada
umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang kadang-kadang
kurang tepat di­sampaikan dalam film ini:

 4.1.
Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya

Beberapa tokoh
dalam film ini gagal memerankan tokoh orang Mesir. Madamme Nafed (Marini),
mamanya Maria, kala mengucapkan kata: "bisyur’ah" (cepat !), tampak
kurang ekspresif. Alangkah lebih "Egypt" nuansanya, bila ia berkata
dengan penekanan: "Yala, yala, bisyur’ah, Ya Maria!", misalnya.
Begitu juga, sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri,
rasanya terlalu calm dan "melankolis". Ketika ia mengucapkan
"Afwan" (terima kasih kembali), menjawab kata-kata Fahri ketika
menerima kiriman juice mangga yang dikirim Maria melalui tariakn keranjang
kecil dari jendela kamarnya: “Musyakirin awi’ala ashir Manggo" (Terima
kasih banyak atas juice mangga) . Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan:
"Afwan Ya Habibi!".

 
Malahan dalam
suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi
jagreed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai penyambutan acara-acara
kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting untuk dicermati, dialek Arab
tokoh Maria ketika bertanya : Qamus ‘Arabi?, diucapkan dalam dialek terlalu
"Saudi Arabia": Qomus ‘Arabi? Saya kira ini salah satu kekhasan
mahasiswa Islam asal Indonesia, karena ketika belajar bahasa Arab di pesantren,
lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih "fushah" (klasik).
Tetapi tidak demikian dengan dialek Mesir, mereka tidak mengucapkan: Subhro,
Mubarok, Rohmat, melainkan: Subhra, Mubarak, Rahmat, dan sebagainya.

 
Begitu juga,
ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran: "Khalash!
Khalash!" (sudah, sudah!), lebih "Mesir" lagi kalau diucapkan:
"Khalash, khalash ba’ah!". Begitu juga, biasanya seorang Mesir
mengucapkan kara "La, la, la" (tidak, tidak, tidak!), sambil dengan
jari terlunjuk bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan "ahlan",
biasanya diucapkan berkali-kali : "Ahlan, ahlan, ahlan…" Yang lebih
mengganjal lagi, dalam salah satu percakapan, seorang tokoh mengucapkan dialek
Mesir bercampur dengan bahasa Arab klasik: Asyan Ana bahibaki awi (Karena saya
sangat mencintaimu), mestinya: Asyan Ana bahibik awi. Asyan adalah ucapan cepat
dari alashan, sedangkan Ana Bahibak, Ana bahibik, dalam bentuk klasiknya: Ana
uhibuka, Ana uhibuki.

 
Lokasi syuting
yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa secara utuh
mengikuti dan membayangkan "suasana Mesir". Mulai rumah-rumah warga
kelas menengah ke atas, lengkap dengan mashrabiya-nya , jalan-jalan kota lama
Cairo yang macet, tidak terkecuali Midan Tahrir dengan warung-warung Asher
(juice) segarnya.. Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam
film tersebut, tidak ada bunyi jagreed (suatu bunyi siulan ibu-ibu yang menandai
penyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Masih banyak adat kebiasaan lain,
yang dalam film ini tidak berhasil ditonjolkan dengan baik, sehingga
ber-"suasana Indonesia dan India", ketimbang ber-"suasana
Mesir", dan negara-negara Arab di Timur Tengah pada umumnya.

 4.2. Tradisi
Kristen Koptik

 Ada kesan kuat
saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, tidak
mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang
tertarik dengan Al-Qur’an karena ayat-ayatnya di-"tilawat"-kan dengan
indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya
tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen
Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik
Gereja-gereja Ortodoks maupun Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci yang
tidak jauh berbeda.

 
Simbol salib
hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi
tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan
berdoa dengan melihat kedua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah
berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam. Bedanya, dalam
Islam diawali dengan rumusan Basmalah: Bismillahi rahmani rahim (Dengan Nama
Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan dalam Kristen dengan membuat
tanda salib dan berkata: Bismil Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid,
Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).

 
Masih ada hal
yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria terbalik, dan terlalu
besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada Fahri ketika ia
terbaring sakit: "Ajarilah aku shalat!", mestinya lebih baik
diperjelas : "Ajarilah aku shalat secara Islam!". Mengapa ? Sebab
kata "shalat" saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di
dalamnya umat Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma
eksklusif Islami. Jadi berbeda dengan negara-negara Muslim non-Arab.

 
Orang-orang
Kristen Koptik juga mengenalwaktu-waktu shalat yang tujuh kali sehari. Waktunya
sama dengan shalat Islam, ditambah dengan "shalat jam ketiga"
(kira-kira jam 09.00 pagi, untuk memperingati turunnya Roh Kudus, Kis. 2:15),
dan jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan, shalat Nishfu Lail (tengah-malam).
Lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal Thariq al-Afam (Via Dolorosa) atau
jam-jam sengsara Kristus.

 
Lebih jelasnya,
kala shalat, jauh sebelum zaman Islam kata ini sudah dipakai dalam bentuk Aram
tselota. Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan Islam (Subuh, Dhuhr,
‘Asyar, Maghrib dan Isya), dan dua sisanya sejajar dengan salat sunnah Dhuha’
dan Tahajjud. Meskipun demikian, istilah, untuk waktu-waktu salat tersebut
berbeda, dan waktu-waktu doa ini mempunyai makna teologis terkait dengan jam-jam
sengsara Yesus Kristus (Thariq al-Afam) sebagai berikut:

"Salat jam
pertama" (Shalat as Sa’at al-Awwal), kira-kira jam 06.00 pagi waktu kita,
untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari antara orang mati
(Mrk.16:2).

"Salat jam
ketiga" (Shalat as-Sa’at ats-Tsalitsah), kira-kira jam 9 pagi, yaitu waktu
pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Mrk. 15:25; Kis. 2:15).

"Salat jam
keenam" (Shalat as-Sa’at as-Sadi-sah), kira-kira jam 12 siang, yaitu waktu
penyaliban Kristus (Mrk. 15:33, Kis. 3:30).

“Salat jam
kesembilan” (Shalat as-Sa’at at Tasi’ah), kira-kira jam 3 petang, untuk
mengenang kematian Kristus (Mrk. 15:33,38; Kis. 3:1);

"Salat
Terbenamnya Matahari" (Shalat al-Ghurub), yaitu waktu penguburan jasad
Kristus (Mrk.15:42).

"Salat waktu
tidur" (Shalat ai-Naum), untuk mengenang terbaringnya tubuh Kristus; dan;

"Salat
Tengah Malam" (Shalat as-Satar atau Shalat Nishfu al-Layl) adalah jam
berjaga-jaga akan kedatangan Kristus (Isa Al-Masih) yang kedua kalinya (Why.
3:3).

 
Salat Tujuh waktu
(As-Sab’u Shalawat) ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam.
Mengapa? Karena praktek doa ini, khususnya seperti yang dipelihara di
biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. "Kanonisasi (waktu-waktu)
salat" (Shalat al-Fardhiyah), sudah mulai dilakukan dalam sebuah dokumen
gereja kuno berjudul Al-Dasquliyyat atau Ta’alim ar-Rusul yang editing
terdininya dikerjakan oleh St.Hypolitus pada tahun 215 M.

 

5. Novel
Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa

 Seperti komentar
banyak tokoh dalam novel “Ayat-ayat Cinta”, memang hasil karya Habiburrahman
el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa, melainkan novel cinta, religi,
figh, politik yang sarat dengan pesan-pesan keagamaan. Novel ini ingin
menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural, sarat sentuhan nilai cinta
kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang selama ini sering di-stigmakan
oleh orang Barat.

 Meskipun
demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela Islam.
Semangat dakwah yang berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi terkadang
"kelewat batas". Misalnya, dalam Bab 33: "Nyanyian dari
Surga" (tetapi bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film),
Maria bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya ketika terbaring
sakit. Di Bab Ar-Rahmah (pintu Rahmat), Bunda Kristus itu, menampakkan diri
begitu anggun dan luar biasa. "Dia (Allah) mendengar haru biru
tangismu", kata Bunda Maria, "Apa maumu?". "Aku ingin masuk
surga. Bolehkah?", tanya Maria sambil menangis.

 
"Boleh",
jawab Bunda Maria. "Memang surga diperuntukkan untuk semua hamba-Nya. Tapi
kau harus tahu kuncinya". "Apa kuncinya?", tanya Maria.
"Nabi pilihan Muhammad Saw telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau
tidak mengetahuinya?", tegas Bunda Maria. "Aku tidak mengikuti ajarannya",
kata Maria. "Itu salahmu!", kata Bunda Maria lagi. Lalu dijelaskan
bahwa jalan. ke surga itu harus lewat Islam.

 
"Maria,
dengarlah baik-baik!", kata Bunda Kristus kepadanya. "Nabi Muhammad
sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, "Barangsiapa berwudhu dengan
baik lalu mengucapkan: Asyhadu ‘an La ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan
‘abduhu wa rasuluh (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya
bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan dibukakan
delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana ia suka." Maria
akhirnya masuk Islam, mengucapkan syahadat dan melaksanakan shalat sebelum ajal
menjemputnya. Inilah "ending" novel dakwah ini.

 
6. Catatan
Reflektif

 Catatan reflektif
saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja. Setiap orang bebas
untuk menyatakan keyakinannya. Termasuk keyakinan bahwa surga itu hanya
"hak orang-orang Muslim". Kalau anda tertarik dengan tawaran ini,
silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi pernahkah anda
berpikir, apakah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas juga mengutarakan
keyakinannya? Seperti keyakinan anda bahwa Bunda Maria, tokoh paling suci dalam
Kekristenan setelah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa jalan ke surga harus
melalui Muhammad.

 
Bolehkah orang
Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup,
dan tidak seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Kristus (Yoh.
14:6), dengan meminjam "lisan Nabi Muhammad" untuk mengajar keyakinan
itu? Moga-moga anda membolehkannya, seperti kami tidak men-demo ketika
"Ayat-ayat Cinta" meminjam "mulut suci Bunda Maria" untuk
dakwah agama Islam. Kalau begini, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah?
Sebaliknya, mengapa harus mengelu-elukan "Injil Yudas", dan "The
Da Vinci Code", tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain yang tidak
menyetujuinya? Katakanlah, "berjuta-juta orang Kristen yang tersakiti
perasaannya" karena publikasi novel dan film itu?"

 
Padahal film ini
akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga fakta keberdampingan
harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di negeri yang oleh Ibnu Khaldun
dijuluki "lbunda Dunia" ini. Misalnya, tenda-tenda Ma’idah ar-Rahman
(Jamuan Sang Pengasih), yaitu jamuan makan gratis yang dibuka di jaan-jalan kota
Kairo, yang di beberapa wilayah Koptik, seperti Subhra, misalnya, selalu dibuka
oleh uskup Gereja Ortodoks Koptik sebagai simbol persatuan nasional (Wihdat al-
Wathani). Begitu juga, kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada
acara ‘Idul Milad (Natal) di Katedral Al-Qidis Marqus, Abbasiya. Tradisi saling
mengucapkan selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya
Kristen, juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara
mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afganistan, Pakistan, dan Indonesia
akhir-akhir ini, yang terkadang "lebih Arab ketimbang negara-negara Arab
sendiri" .

 Dan akhirnya,
berbarengan dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran film "The
Fitna", saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda menyambut
film "ayat-ayat Cinta", izinkanlah saya mengucapkan: Mabruk,
(Selamat!) atas prestasi dan sukses film ini. Ini bukan basa-basi. Karena
sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tapi hati saya turut merasakan
gembira bila anda bergembira.

 
*) Bambang
Noorsena, mantan aktivis GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) adalah
pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), alumnus Kajian
Perbandingan Agama pada Dar Comboni Institute, Cairo, Mesir.

 

 

7. Lampiran
Novel Ayat-ayat Cinta

Hal. 400 -
HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Yang kuhafal,
adalah surat Maryam yang tertera di dalam Al-Quran. Dengan mengharu biru aku
membacanya penuh penghayatan.

"Selesai
membaca surat Maryam aku lanjutkan surat Thaha. Sampai ayat sembilan puluh
sembilan aku berhenti karenaa Babur Rahmah terbuka perlahan. Seorang perempuan
yang luar biasa anggun dan sucinya keluar mendekatiku dan berkata, “Aku
Maryam”. Yang baru saja kausebut dalam ayat-ayat suci yang kau baca. Aku diutus
oleh Allah untuk menemuimu. Dia mendengar haru biru tangismu. Apa maumu ? Aku
ingin masuk surga. Bolehkah? “Boleh”. Surga memang diperuntukkan bagi semua
hambaNya: Tapi kau harus tahu kuncinya?’ Apa itu kuncinya ?

‘Nabi pilihan
Muhammad Saw. telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak
mengetahuinya?’ Aku tidak mengikuti ajarannya.’ Itulah salahmu.’

Kau tidak akan
mendapatkan kunci itu selama kau tidak mau tunduk penuh ikhlas mengikuti ajaran
Nabi yang paling dikasihi Allah ini. Aku sebenarnya datang untuk memberitahukan
kepadamu kunci masuk surga. Tapi karena kau sudah menjaga jarak dengan Muhammad
Saw, maka aku tidak diperkenankan untuk memberitahukan padamu.

Bunda Maryam lalu
membalikkan badan dan hendak pergi. Aku langsung menubruknya dan bersimpuh di
kakinya. Aku menangis tersedu-sedu. Memohon agar diberitahu kunci surga itu.
Aku hidup untuk mencari kerelaan Tuhan. Aku ingin masuk surga hidup bersama
orang-orang yang beruntung. Aku akan melakukan apa saja, asal masuk surga.
Bunda Maryam, tolonglah aku. Berilah aku kunci itu! Aku tidak mau pergi
selama-lamanya. Aku terus menangis sambil menyebut-nyebut nama Allah.

Habiburrahman
EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta : Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Edisi Revisi
(Jakarta: Basmala dan Harian Republika.2006).

[2] Nama Girgis
(arabisasi dari nama George, seorang santo atau al-qidis, yang sangat popuJer
di Gereja-gereja orthodoks), Butros (arabisasi dari Petrus) dan nama-nama dalam
bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik, orang-orang Kristen Arab bisa juga memakai
nama-nama Arab sebelum dan sesudah Islam. Biasanya, nama-nama Kristen Arab
misalnya: Abdul Masih (Hamba Kristus), Abdul Fadi (Hamba Sang Penebus), cukup
mudah dibedakan dengan nama-nama Arab Muslim: Abdul Aziz, Ramadhan, Mahmud,
Ahmad, Ashraf dan sebagainya. Tetapi nama-nama seperti Abdullah (Hamba Allah),
Ibrahim, Ishak, Mukmin, dan masih banyak lagi, adalah nama-nama netral yang
dipakai baik orang Kristen maupun Islam

[3] Irish Habib
al-Masri, Qishah Al-Kanisah al-Qibthiyyah. Jilid I (Cairo: Maktabah
al-Mahabbah, 2003), hlm. 20-33. Lihat juga: A. Wessels, Arab and Christian?
Christian in the Middle East (Kampen: Kok Pharos Publishing House, 1995), him.
126.

[4] 4Lihat
panduan Shalat dalam Gereja Orthodoks Koptik: A/-Ajabiyya: As-Sab’u Sha/awot
An-Nahtriyyah wa Lailiyyat (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2001).

[5] 5AI-Qush
Yoanis Kamal, Tartib UshbO’ A/-A/om (Oar al-Jilli ath-Thaba’ah,2001).

 [6] Munculnya
tradisi tattoo salib di tangan, pertama kali berasal dari masa penganiayaan.
Tanda itu menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi keselamatan mereka dari
para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir pada zaman Romawi menjadi
gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang ditandai dengan peredaran
bintang Siriuz, disebut dengan Tahun Kesyahidan (Anno Martyri), yang tidak termasuk
tahun syamsiah (matahari) ataupun qamariyah (bulan), tetapi disebut tahun
kawakibiyah (tahun bintang).

 [7]Kata
"musyakirin awi ala …" (Terima kasih banyak atas…) adalah dialek
khas Mesir, kata "awi" asalnya dari: "qawwi" (besar), dalam
bahasa Arab klasik: "Syukran ‘ala… " (terima kasih atas…), atau
"Alfu syukran ‘ala …" (beribu terima kasih atas…)

[8]

Mashrabia adalah
jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran halus, biasanya
digunakan oleh anak-anak gadis orang kaya untuk mengintip keluar tetapi orang
tidak bisa melihat ke dalam.

 
[9] Fakta bahwa
seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik ritus Timur.
melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah Islam dengan jelas
dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity (Nostre Dome. Indiana:
University of Nostre Dame Press, Lt.). Demikianlah catatan Aziz S. Atiya
mengenai pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap Gereja: Orthodoks Koptik:
"These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce, Sext, None,
Vespers, Compline and the Midnight prayer…" (hlm. 128). Mengenai Gereja
Orthodoks Syria, "…keep usual hours from Matins to Compline, with they
describe as the ‘protection prayer’ (Suttara) before retiring" (hlm. 124).
Sedangkan Gereja Maronit di Lebanon: "Seven in number., they are the Night
Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours, Verpers and Compline" (hlm.
414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu ini dalam bahasa Arab. lihat:
Mar Ignatius Afram al-Awwal Borshaum (ed.), Al-Tuhfat al-Ruhiyyahi fi
ash-Shalat al-Fardhiyyah (Aleppo. Suriah: Dar al-Raha Ii an-Nasyr. 1990).

[10]

Marqus Dawud
(ed.), Al-Dasquliyyah, ar Ta’alim arRusul (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003),
Bab: Auqat Shalawat (Waktu-waktu Salat), hlm. 171-172.

 
[11] Lih. Artikel
saya: Bambang Noorsena, "Ramadhan di Cairo", di Surabaya Post, 20
Agustus 2004, yang dimuat kembali di www.iscs.id

 
Sumber : Acara
Forum Fokus di Gedung Kasih Bersaudara - Lt.4, Awal April 2008

 

Artikel ini
di-repro dari: http://ourunity.blogspot.com/2008/05/selayang-pandang-kristen-koptik-dalam.html

 
bisa juga dibaca di http://www.pustakalewi.info/detail.asp?section=rubrikberitadetail&rubrikberitamingguanid=1829

—————-

a little bit cumen:

suerr… belon bisa komen, sekedar menelaah saja, mengunyahnya bulat2,,, [coz gak paham fakta yang sesungguhnya...], tar kalo bener2 dah "dong"… mungkin saja bakal di masak lagi… hehe…

*kebiasaaan!!!*

GENJER-GENJER dan STIGMATISASI KOMUNIS

Filed under: Uncategorized — sinankaysa at 7:33 am on Thursday, May 8, 2008

Oleh
Paring Waluyo Utomo

Genjer-genjer mlebu kendil wedange gemulak
Setengah mateng dientas yong dienggo iwak
Sego nong piring sambel jeruk ring ngaben
Genjer-genjer dipangan musuhe sego

Sebelum pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi
termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang dengan
kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada
tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang surplus makanan berubah
sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan makanan, sampai-sampai masyarakat
harus mengolah daun genjer (limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh
masyarakat dianggap sebagai tanaman pengganggu.

Situasi sosial semacam itulah yang menjadi inspirasi bagi Muhammad Arief,
seorang seniman Banyuwangi kala itu untuk menciptakan lagu genjer-genjer.
Digambar oleh M Arif bahwa akibat kolonialisasi, masyarakat Banyuwangi hidup
dalam kondisi kemiskinan yang luar biasa sehingga harus makan daum genjer.
Kisah itu tampak dalam sebait lagu genjer-genjer di atas.

Seiring dengan perkembangan waktu dan Indonesia mencapai kemerdekaan, Muhammad
Arief sebagai pencipta lagu genjer-genjer bergabung dengan Lembaga Kebudayaan
Rakyat (Lekra) yang memiliki hubungan ideologis dengan Partai Komunis
Indonesia. Maka lagu ini pun segera menjadi lagu popular pada masa itu, bahkan
dalam pernyataannya kepada penulis, Haji Andang CY seniman sekaligus teman
akrab M Arief di Lekra serta Hasnan Singodimayan, sesepuh seniman Banyuwangi
menyebutkan bahwa lagu genjer-genjer menjadi lagu populer di era tahun 1960-an,
di mana Bing Slamet dan Lilis Suryani penyanyi beken waktu itu juga gemar
menyanyikannya dan sempat masuk piringan hitam.

Kedekatan lagu genjer-genjer dengan tokoh-tokoh Lekra dan komunis memang tak
dapat dipungkiri. Bahkan dalam sebuah perjalanan menuju Denpasar, Bali pada
tahun 1962, Njoto seorang seniman Lekra dan juga tokoh PKI sangat kesengsem
dengan lagu genjer-genjer. Waktu itu Njoto memang singgah di Banyuwangi dan
oleh seniman Lekra diberikan suguhan lagu genjer-genjer. Tatkala mendengarkan
lagu genjer-genjer itu, naluri musikalitas Njoto segera berbicara. Ia segera
memprediksikan bahwa lagu genjer-genjer akan segera meluas dan menjadi lagu nasional.
Ucapan Njoto segera menjadi kenyataan, tatkala lagu genjer-genjer menjadi lagu
hits yang berulang kali ditayangkan oleh TVRI dan diputar di RRI (Lihat Jurnal
Srinthil Vol. 3 tahun 2003).

Fobia Genjer-genjer
Entah apa yang salah dengan genjer-genjer sebagai sebuah produk kebudayaan?
Selepas PKI dan orang-orang PKI, berikut anak cucunya dihancurkan oleh Orde
Baru, tak terkecuali pula lagu genjer-genjer yang sebenarnya adalah lagu yang
menggambarkan potret masyarakat pada zaman pendudukan Jepang. Mungkin
steriotype lagu genjer-genjer menjadi lagu komunis dan patut dihancurkan muncul
atas beberapa faktor. Pertama, sejak awal lagu ini berkembang dan dikreasi oleh
kalangan komunis dan dikembangkan oleh kalangan komunis pula. Walaupun pada
perkembangannya pada era tahun 1960-an lagu ini tidak hanya digemari oleh
kalangan komunis, tetapi juga masyarakat secara luas. Namun Orde Baru
menerapkan politik bumi hangus, maka seluruh produk apa pun yang dilahirkan
oleh orang-orang komunis haram hukumnya dan patut dihabisi. Kedua, ketika
peristiwa G 30 S tahun 1965 terjadi, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia) mempelesetkan genjer-genjer menjadi jenderal-jenderal. Dalam catatan
pribadinya Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M Arief menuliskan bahwa
lagu "Genjer-genjer" telah dipelesetkan.

Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli

Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Germwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni

Akibat penulisan lagu "Genjer-genjer" menjadi jenderal-jenderal, maka
kian kuatlah alasan Orde Baru untuk membumihanguskan lagu ini. Pada perkembangannya,
siapa pun yang tetap menyanyikan lagu ini akan ditangkap oleh aparat keamanan,
tentu dengan tuduhan komunis. Karena larangan menyanyikan lagu genjer-genjer,
maka beberapa seniman gandrung di Banyuwangi juga dilarang untuk menyanyikan
lagu genjer-genjer, dan beberapa lagu dan gendhing yang memompa kesadaran
politik massa rakyat.
Para seniman gaek pada masa itu seperti Hasnan Singodimayan, dan Haji Andang CY
juga merasa heran dengan munculnya lirik lagu genjer-genjer yang sedemikian
mendeskreditkan petinggi-petinggi militer waktu itu. Namun apalah kuasa
orang-orang lemah waktu itu. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin itulah
ungkapan yang patut untuk menggambarkan kondisi seniman-seniman rakyat yang
kebanyakan berafiliasi dengan Lekra. Jangankan mengoreksi lagu genjer-genjer,
menyelamatkan diri mereka saja susah.

Rehabilitasi Kultural
Kini kita telah memasuki babakan politik baru, sebuah babakan politik yang
digadang-gandang akan menarasikan kebebasan. Konsep kebebasan menjadi pilar
penting bagi episode kehidupan yang bertemakan demokrasi. Kalau memang saat ini
kita bersungguh-sungguh membuat tema kehidupan tentang demokrasi, maka ada
hal-hal penting yang menurut hemat penulis diperhatikan, khususnya yang
menyangkut politik-kebudayaan.

Pertama, alam demokrasi harus memberikan tempat yang setara bagi segenap
kalangan, tanpa memandang latar belakang kultural, agama, dan politik.
Konsekuensinya, seluruh produk kebudayaan apa pun bentuknya diperkenankan
tampil kembali menghiasai ruang publik, dan diserahkan kepada pasar politik
untuk memberikan penilaian. Itu artinya, produk-produk kebudayaan yang pada
masa lalu dikambinghitamkan tanpa argumentasi mestinya diberikan ruang
pemulihan kembali untuk tampil mengisi khazanah kebudayaan Indonesia. Sebagai
contoh yang paling nyata adalah kesenian genjer-genjer.

Kedua, negara melalui otoritas regulasinya semata-mata diletakkan sebagai
fasilitator yang menaungi seluruh produk kebudayaan yang muncul dan
dikembangbiakkan oleh rakyat. Regulasi negara tidak lagi menjadi mesin
pemangkas yang setiap saat menghabisi produk-produk kesenian rakyat. Dalam
rangka sebagai fasilitator itu, negara selayaknya menaruh jarak yang sama
dengan semua produk kebudayaan rakyat.

*Penulis adalah Direktur Pusat Studi dan Pengembangan Kebudayaan (Puspek)
Averroes, Malang.

http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0423/bud2.html

Next Page »